Pernah nggak sih, beli hosting mahal-mahal dengan janji “performa premium”, tapi pas dipakai malah lemot kayak hosting murahan? Saya paham banget rasanya. Itu sebabnya saya coba ScalaHosting selama 6 bulan terakhir untuk proyek klien yang butuh performa kencang. Ini fakta nyatanya, tanpa basa-basi.
Apa Itu ScalaHosting, Kenapa Ramai Dibicarakan?
ScalaHosting bukan nama baru. Mereka sudah ada sejak 2007, tapi belakangan jadi sorotan berkat fokus ke managed VPS dan panel buatan sendiri: SPanel. Yang menarik, mereka nggak cuma jadi reseller WHM/cPanel seperti kebanyakan provider.
Mereka bangun infrastruktur sendiri dengan claim “premium performance”. Tapi claim itu beneran atau cuma marketing gimmick? Saya tes langsung.

Performa Nyata: Speed Test dan Benchmark
Ini yang paling penting. Saya deploy staging WordPress dengan WooCommerce di VPS Entry Plan (2 vCPU, 4GB RAM). Lalu saya jalankan beberapa tes:
Server Response Time (TTFB)
Menggunakan GTmetrix dan WebPageTest dari lokasi Asia, hasilnya konsisten 200-350ms untuk halaman HTML kosong. Ini kencang banget untuk server di Dallas, AS. Bandingkan dengan shared hosting lokal yang sering di atas 1 detik.
Load Handling
Saya stress test menggunakan k6 dengan 50 virtual users concurrent. Hasilnya:
- 94% request berhasil tanpa error
- P95 latency: 1.2 detik (masih acceptable)
- CPU usage stabil di 70% tanpa throttle
Ini impresif untuk plan termurah. Mereka pakai AMD EPYC 7543 dengan clock 2.8GHz dan NVMe SSD. Bukan hardware lawas.
Database Query Performance
Untuk aplikasi Laravel dengan query kompleks, saya catat query time rata-rata 15-30ms. Ini berkat NVMe SSD dan MariaDB yang sudah di-tune. Nggak perlu optimize manual banyak-banyak.
Uptime dan Stabilitas: Janji 99.9% Terbukti?
Saya monitor uptime menggunakan UptimeRobot selama 180 hari. Hasil real: 99.97%. Downtime total cuma 1 jam 18 menit, itu pun karena maintenance yang diumumkan 3 hari sebelumnya.
Maintenance window mereka rata-rata 15-30 menit dan jarang banget. Support juga ngasitau lewat email dan Telegram. Ini beda banget dengan provider lokal yang sering down tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
SPanel vs cPanel: Worth the Switch?
Ini fitur unggulan mereka. SPanel dibuat sebagai alternatif cPanel yang lebih ringan dan gratis. Saya awalnya skeptis, tapi setelah pakai:
Kelebihan SPanel
- Lebih hemat resource: Pakai RAM cuma 100-150MB, vs cPanel yang 300-500MB
- Integrasi SShield: Real-time malware scanning, deteksi ancaman dalam 0.5 detik
- Backup incremental setiap hari, retensi 7 hari di remote storage
- UI modern dan nggak cluttered
Kekurangan SPanel
- Beberapa fitur cPanel kayak Softaculous versi lengkap belum ada
- Documentation masih kalah lengkap dibanding cPanel
- Butuh adaptasi kalau tim sudah terbiasa cPanel
Untuk developer yang nyaman CLI, SPanel nggak jadi masalah. Malah lebih enak karena ringan.
Security: SShield Itu Beneran Works?
Saya sengaja deploy WordPress tanpa security plugin untuk tes SShield. Dalam 2 minggu, ada 47 kali percobaan brute force. Semua diblokir otomatis. SShield juga nge-detect file yang dimodifikasi malware dan langsung isolasi.
Mereka juga kasih free SSL wildcard via Let’s Encrypt yang auto-renew. Nggak perlu pusing lagi.
Penting: ScalaHosting punya Imunify360 di semua server mereka. Ini enterprise-grade security suite yang biasanya cuma ada di hosting mahal. Saya cek prosesnya aktif dan konsumsi resource minimal.
Support: Ngebantu atau Ngecewain?
Saya buat 3 tiket dengan level urgency beda. Respons time:
- High priority: 8 menit (malam hari)
- Medium priority: 45 menit (siang)
- Low priority: 2 jam 15 menit
Semua tiket dijawab oleh level 2 support langsung. Nggak ada script generic “coba clear cache”. Mereka langsung cek log, process, dan config. Salah satu tiket soal Nginx config custom, mereka bantu optimize sampai bener.
Live chat juga tersedia 24/7, tapi untuk masalah teknis kompleks tetep disarankan buat tiket. Saya prefer tiket sih, lebih terstruktur.
Harga: Mahal atau Worth It?
VPS Managed mulai dari $29.95/bulan (2 vCPU, 4GB RAM). Kalau dibandingkan:
| Provider | Plan Serupa | Harga | Panel |
|---|---|---|---|
| ScalaHosting | Build #1 | $29.95 | SPanel (free) |
| Cloudways | DO Premium 2GB | $42 | Custom |
| SiteGround | GoGeek | $39.99 | cPanel |
| Niagahoster | VPS NVMe 2 | ~Rp 300rb | cPanel (bayar) |
Kalau hitung total cost, ScalaHosting lebih murah karena SPanel gratis. cPanel sekarang mahal banget, bisa $20/bulan. ScalaHosting malah kasih SPanel + WHMCS gratis untuk reseller.
Tapi ada catatan: Harga renewal sama, nggak naik gila-gilaan kayak SiteGround. Ini poin plus besar.
Kekurangan yang Perlu Diketahui
Saya nggak mau jadi fanboy. Ada beberapa hal yang bikin geleng-geleng:
- Data center Asia terbatas: Cuma Singapore. Kalau target user Indonesia, latency masih 50-70ms. Nggak secepat local hosting.
- Backup restore butuh waktu: Saya tes restore 2GB, butuh 25 menit. Lama dibanding cPanel yang 10 menitan.
- Migration gratis tapi ribet: Prosesnya manual submit form, nggak otomatis kayak plugin. Butuh 2-3 hari kerja.
- Limit outbound email: 200/hour untuk plan termurah. Bisa jadi masalah kalau punya newsletter besar.
Untuk Siapa ScalaHosting Ini?
Setelah 6 bulan, saya simpulkan:
Cocok untuk:
- Developer yang butuh VPS managed tanpa ribet
- Agency dengan banyak klien WordPress/WooCommerce
- Startup yang butuh skalabilitas tanpa hiring DevOps
- Pengguna cPanel yang kapok bayar mahal
Skip dulu kalau:
- Budget di bawah Rp 150rb/bulan (mending shared hosting lokal)
- Butuh data center di Indonesia (pilih IDCloudhost atau JagoanHosting)
- Pengguna pemula yang cuma butuh 1-2 website kecil (overkill)
Verdict Akhir: Premium atau Nggak?
ScalaHosting itu premium di kelasnya, tapi bukan untuk semua orang. Performanya beneran kencang, supportnya kompeten, dan SPanel itu value tambah besar. Tapi kalau target utama user Indonesia dan budget terbatas, masih ada pilihan lebih tepat.
Nilai: 8.5/10 untuk performa dan value. Minus poin karena data center Asia terbatas dan backup restore lambat.
Saya pindahkan 3 klien besar ke ScalaHosting dan semuanya happy. Tapi untuk project kecil, saya tetep pakai shared hosting lokal. Pilih sesuai kebutuhan, jangan ikut-ikutan hype.




