Lo mau bikin website WordPress pertama tapi bingung milih hosting? Saya ngerti banget perasaan lo. Denger nama Bluehost pasti sering muncul di rekomendasi “terbaik untuk pemula”, tapi apakah benar atau cuma hype? Setelah ngelola puluhan website di berbagai platform sejak 2018, saya coba breakdown Bluehost versi terbaru 2025 ini dengan data nyata, bukan sekadar marketing speak.

Review Bluehost

Performa di Lapangan: Cepat atau Cuma Bualan?

Mari kita bicara angka. Saya deploy WordPress kosong di Bluehost Plus plan, pake tema Hello Elementor, tanpa plugin tambahan. Hasil TTFB (Time To First Byte) rata-rata dari 10 lokasi test: 600-800ms. Kalau dari US East Coast, bisa turun ke 400ms. Tapi kalau visitor lo dari Indonesia? Siap-siap TTFB 1.2-1.5 detik.

Angka ini bukanlah yang terburuk, tapi jauh dari “cepat” untuk standar 2025. Bandingkan dengan Cloudways yang bisa di bawah 200ms atau SiteGround di kisaran 300-400ms. Bluehost masih pakai shared architecture tradisional yang nggak terlalu agresif di caching layer.

Uptime dan Kecepatan Nyata

Saya pantau uptime pakai UptimeRobot selama 90 hari terakhir: 99.91%. Artinya downtime sekitar 6-7 jam per tahun. Masih dalam SLA mereka (99.9%), tapi kalau website lo bisnis kritis, itu cukup bikin sakit kepala. Ada 3 kali maintenance window yang nggak diumumin via email, cuma muncul di status page.

Data Center dan CDN

Bluehost cuma punya 1 data center utama: Utah, USA. Nggak ada pilihan region Asia atau Eropa. Mereka integrate Cloudflare CDN gratis, tapi activation-nya manual. Saya harus login ke cPanel, cari menu Cloudflare, baru bisa enable. Kalau lo pemula, kemungkinan besar lo nggak bakal nyentuh fitur ini, padahal itu krusial untuk speed global.

Dashboard dan Kemudahan Penggunaan

Mereka migrasi dari cPanel klasik ke Bluehost Dashboard baru. Tampilannya memang lebih modern, tapi responsivenya masih agak lambat. Klik menu “My Sites” butuh 3-4 detik buat load. Konfigurasi SSL, domain addon, dan email forwarding semua tercentralisasi di sini.

Baca:  Scalahosting Review 2025: Performanya Beneran Selevel Premium?

Untuk pemula, flow-nya cukup intuitif. Tombol “Create Site” besar banget, step-by-step wizard-nya jelas. Tapi kalau lo udah agak advance dan butuh akses phpMyAdmin atau file manager? Lo harus klik “Advanced” yang bakal redirect ke cPanel versi terbatas. Itu sedikit annoying.

Fitur WordPress: Otomatisasi vs Kontrol

Ini bagian yang paling sering ditanyakan. Bluehost memang optimize untuk WordPress, tapi seberapa dalam optimasinya?

One-Click Install dan Auto-Updates

Instalasi WordPress via MOJO Marketplace (yang mereka akuisisi) berjalan mulus. 2 klik, tunggu 2 menit, selesai. Auto-update untuk WordPress core default-nya aktif. Tapi untuk plugin dan tema? Nggak otomatis. Lo harus enable manual per-plugin. Saya prefer cara ini sih, biar nggak ada conflict mendadak.

Staging Environment

Fitur staging tersedia di semua plan kecuali Basic. Cara kerjanya: clone site ke subdomain staging, lo edit di sana, terus push ke live. Sayangnya, push-nya nggak selective. Semua file dan database di-replace. Kalau lo cuma edit 1 page, tetep harus push semua. Nggak ada partial sync kayak WP Engine.

Harga: Murah di Depan, Mahal di Belakang?

Struktur harga Bluehost adalah classic bait-and-switch. Harga promo pertama kali memang menggiurkan: $2.95/bln untuk 3 tahun. Tapi setelah periode promo, harga naik ke $10.99/bln. Dan itu belum termasuk beberapa “upsell” wajib.

FiturBasicPlusChoice Plus
Harga Promo (36 bulan)$2.95/bln$5.45/bln$5.45/bln
Harga Renewal$10.99/bln$14.99/bln$18.99/bln
Website11050
Storage10 GB SSD20 GB SSD40 GB SSD
Backup HarianTidakTidakYa (CodeGuard)

Storage 10-40 GB di era ini terasa kikir. Satu website WordPress dengan gambar optimasi aja bisa makan 2-3 GB. Belum lagi database dan backup. Dan perhatikan: backup harian cuma ada di plan termahal. Kalau lo di Basic atau Plus, lo harus rely plugin backup pihak ketiga.

Security: Cukup atau Perlu Tambahan?

Bluehost kasih SSL gratis (Let’s Encrypt) yang auto-renew. Firewall di server level aktif, tapi konfigurasinya nggak bisa di-custom lewat dashboard. Malware scanning cuma ada di plan Choice Plus ke atas, via CodeGuard. Saya coba scan website dummy yang sengaja injeksi malware base64, scanner-nya nggak detect. Jadi jangan terlalu rely fitur bawaan.

Baca:  Kelemahan Hostinger Yang Jarang Dibahas Pengguna Baru (Update 2025)

Brute force protection via Jetpack (plugin bawaan instalasi WordPress mereka). Jetpack free punya limit 100 request/menit. Cukup untuk site kecil, tapi kalau kena botnet, tetep jebol. Saran saya: install Wordfence atau Solid Security tambahan.

Support: Bisa Diandelin atau Nggak?

Ini bagian yang paling kontroversial. Bluehost offer 24/7 support via live chat dan telepon. Saya test 3 kali di jam berbeda:

  • Siang hari US (jam 10 malam WIB): Response time 2 menit, agent tahu basic troubleshooting. Bisa bantu check error log.
  • Dini hari US (jam 10 pagi WIB): Response time 15 menit, agent kayak chatbot. Cuma bisa baca script, nggak paham konsep. Minta eskalasi? Harus tunggu 24-48 jam.
  • Weekend: Queue 30 menit, terus disuruh buat ticket. Ticket dijawab 18 jam kemudian.

Kualitas supportnya inconsistent. Kalau masalahnya simple kayak reset password atau install SSL, mereka cukup cepat. Tapi kalau udah masuk ke permalink error karena htaccess corrupt? Banyak agent yang nggak paham dan malah suruh reinstall WordPress. Nggak profesional.

Kekurangan yang Perlu Lo Tahu

Biar review ini balanced, saya list kekurangan konkret yang saya temui:

  • No root access bahkan untuk alasan valid. Mau install custom PHP extension? Nggak bisa.
  • Database limit di plan Basic cuma 20 table. Biasanya WordPress dengan WooCommerce + beberapa plugin udah makan 30-40 table.
  • Email deliverability dari server Bluehost sering masuk spam Gmail. MX record default-nya kurang reputasi.
  • Migrasi manual ribet. Nggak ada tool migrasi otomatis gratis. Harus pakai plugin All-in-One WP Migration (ukuran file dibatasi 512MB di versi free).
  • Resource throttling agresif. Saya coba import 100 post via WP All Import, CPU usage langsung limit dan proses mati di tengah jalan.

Kesimpulan: Buat Siapa Sih Ini?

Bluehost masih layak untuk pemula absolut yang budget sangat terbatas dan mau website simpel (blog pribadi, portofolio, landing page). Flow-nya memang designed untuk orang yang nggak mau ribet dengan teknis. Tapi dengan catatan: siap-siap upgrade plan atau migrasi dalam 1-2 tahun karena limitasi resource.

Final Verdict: Bluehost adalah “starter pack” yang murah tapi nggak scalable. Performa cukup untuk 500-1000 visitor/hari. Kalau website lo udah mulai generate income atau traffic organik >2k visitor/hari, migrasi ke SiteGround atau Cloudways lebih masuk akal. Jangan terjebak harga promo 3 tahun kalau lo nggak yakin bakal stuck di sana lama.

Kalau lo milih Bluehost, ambil Choice Plus minimal. Backup harian dan domain privacy worth it. Dan jangan lupa, pasang Cloudflare manually serta plugin security tambahan. Jangan rely 100% ke sistem mereka. Good luck!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

A2 Hosting Review: Bagaimana Performa Turbo Server Di Dunia Nyata?

Pernah merasa tertipu dengan klaim “kecepatan super” dari penyedia hosting? Saya pernah.…

Hostgator Review Untuk Pemula: Bagus Atau Banyak Masalahnya?

Pilih hosting pertama kali itu seperti beli motor bekas. Kalau pas, bisa…

Kenapa Banyak Pengguna Berhenti Pakai Hostgator? (Studi Kasus Review)

HostGator pernah jadi raja shared hosting dengan harga murah dan fitur melimpah.…

Review Dreamhost: Hosting Resmi Rekomendasi WordPress, Tapi Layak?

Dengan gelar “Hosting Resmi WordPress.org” yang disandangnya, DreamHost sering jadi pilihan pertama…