Hostinger sering jadi pilihan pertama buat pemula karena harganya yang super kompetitif. Tapi setelah ngelola ratusan website di berbagai platform, saya temukan beberapa gotcha teknis yang jarang muncul di review mainstream. Masalah ini nggak selalu fatal, tapi bisa jadi mimpi buruk kalau kamu nggak siap.
Resource Limit yang Lebih Agresif dari yang Tertera
Ya, semua shared hosting punya batasan CPU dan RAM. Tapi di Hostinger, batasan I/O dan EP (Entry Processes) sering jadi killer yang nggak terlihat di halaman penjualan. Kamu bisa lihat limit CPU 50% atau RAM 1GB, tapi yang bikin website mati mendadak adalah I/O limit 1MB/s di paket Single dan Premium.
Saya pernah deploy WooCommerce dengan 20 produk, traffic cuma 50 visitor per hari. Tiba-tiba down tanpa warning. Cek hPanel, CPU 30%, RAM 70%, tapi I/O stuck di 100% terus. Penyebabnya? Plugin backup running di background. Hostinger nggak selalu jelas soal ini di dashboard mereka.
Perhatian: I/O limit ini bikin website yang pakai database intensive seperti Laravel, Moodle, atau custom CMS sering kena throttle meski traffic rendah.
Workaround? Upgrade ke Business atau Cloud, atau optimasi database agar query lebih efisien. Tapi kalau budget terbatas, kamu harus siap debugging masalah ini sendiri karena support biasanya cuma bilang “optimize your website”.

Backup Otomatis yang “Setengah Jadi”
Fitur backup mingguan gratis terdengar menarik. Tapi restore process-nya jauh dari seamless. Kamu nggak bisa restore file dan database secara terpisah lewat hPanel. Restore full backup butuh tiket support, dan itu bisa makan waktu 24-48 jam.
Lebih parah lagi, backup otomatis mereka kadang nggak sempurna kalau website kamu di atas 5GB. Saya pernah coba restore, ternyata beberapa folder uploads hilang. Support bilang “backup corrupted due to size limit”. Size limit apa? Nggak ada di knowledge base.
Untuk website produksi, jangan andalkan backup Hostinger 100%. Setup cron job ke remote storage kayak S3 atau Google Drive. Tools like All-in-One WP Migration bisa jadi penyelamat, tapi itu artinya cost tambahan.
Hidden Cost di Backup On-Demand
Butuh backup harian? Hostinger tawarkan addon Daily Backup seharga $11.99/bulan. Tapi restore-nya masih lewat support. Beda dengan cPanel yang punya Backup Wizard lengkap. Ini tradeoff pakai hPanel yang lebih sederhana tapi kurang fleksibel.
Migration Tool yang Hanya “Setengah Otomatis”
Hostinger punya Auto Migration tool yang klaimnya bisa migrasi WordPress dengan satu klik. Realitanya? Tool ini gagal 60% kali di website yang punya custom table prefix atau ukuran di atas 2GB. Error-nya generic: “Migration failed, please try again”.
Proses manual tetap lebih reliable: export SQL, tar file, upload via FTP, edit wp-config. Tapi ini nggak ramah pemula. Dan kalau kamu minta bantuan support untuk migrasi manual, mereka cuma kasih link tutorial. Nggak ada bantuan hands-on kecuali kamu di plan Business ke atas.

Cache Layer yang Terlalu Agresif
Hostinger implementasi LiteSpeed Cache di semua level. Bagus untuk speed, tapi nightmare untuk dynamic content. Form submission, cart update, atau real-time data sering kena cache lama meski kamu sudah set cache-control header.
Saya pernah debug aplikasi Laravel yang pakai API internal. Response-nya selalu stale selama 5 menit, padahal di code sudah clear cache. Ternyata cache di LiteSpeed server level yang nggak bisa di-flush dari user level. Musti buat tiket support. Ini nggak ada di documentation.
Solusi sementara: tambahkan parameter query string unik di setiap request dynamic. Tapi ini dirty hack, bukan solusi produksi.
IP Reputation yang Sering Kena Blacklist
Karena density server yang tinggi, shared IP di Hostinger sering masuk blacklist Spamhaus atau Barracuda. Impact-nya? Email dari website kamu (form notification, order confirmation) masuk spam atau langsung ditolak.
Saya cek dengan tool MXToolbox, 3 dari 5 client saya di Hostinger Premium kena blacklist IP. Solusinya: beli dedicated IP seharga $48/tahun. Tapi kenapa harus bayar lebih untuk masalah yang sebenarnya tanggung jawab provider?
Strategi Mitigasi untuk Engineer Pragmatis
Nggak semua kelemahan ini dealbreaker. Tapi kamu harus punya strategi:
- Monitoring Proaktif: Setup UptimeRobot atau Better Uptime. Hostinger nggak selalu kirim warning kalau resource limit tersentuh.
- Backup Independence: Jangan percaya backup bawaan. Gunakan UpdraftPlus (WordPress) atau custom script tar + rsync ke VPS kecil.
- Staging Environment: Selalu test update di subdomain staging. Restore dari backup lama kalau production error.
- Email Routing: Jangan pakai PHP mail(). Gunakan SMTP transactional service (SendGrid, Amazon SES) sejak day one.
- Plan Selection: Skip Single Web Hosting. Langsung ke Business kalau website ada potensi scale. Beda harga $1-2/bulan tapi resource beda jauh.
Kesimpulan praktis: Hostinger itu seperti motor matic murah. Bisa bawa kamu jauh, tapi kamu harus paham cara rawat dan tau keterbatasannya. Jangan bawa racing di trek berat.
Apakah Masih Worth It di 2025?
Untuk personal blog, landing page, atau portfolio: masih worth it. Harga murah, speed decent, dan hPanel cukup intuitif. Tapi untuk e-commerce, SaaS, atau aplikasi business critical, pertimbangkan Cloud Provider entry-level seperti DigitalOcean Apps atau Cloudways.
Hostinger itu value for money kalau kamau tau tradeoff-nya. Masalahnya, banyak pengguna baru nggak tau tradeoff ini sampai kena masalah di tengah jalan. Sebagai engineer, tugas kita adalah bantu mereka siap, bukan cuma promosiin harga murah.




