Migrasi Blogspot ke WordPress sering bikin mimpi buruk. Bayangan traffic hancur, posisi SERP anjlok, dan link-link berharga jadi error 404 bikin banyak blogger ragu. Jujur aja, rasa takut itu valid. Tapi setelah ngurus puluhan migrasi, saya bisa bilang: kalau prosesnya benar, dampak SEO bisa minimal sampai nol. Ini bukan sihir, tapi kerja detail.

Mengapa Migrasi Bikin Panik? (Dan Kenapa Paniknya Bener)

Blogspot punya keunikan: URL-nya otomatis, hosting-nya gratis, dan Google ngeliriknya cukup baik. Pindah ke WordPress berarti semua URL berubah struktur, domain custom jadi mandatory, dan kamu harus ngurus hosting sendiri. Salah langkah, Googlebot bingung, index jadi kacau.

Masalahnya: Blogspot pakai redirect native ke versi HTTPS dan mobile. WordPress? Kamu yang atur. Gap ini yang sering bikin link lama jadi broken, authority page nyerah, dan visitor bingung.

Ingat: Migrasi bukan hanya soal pindah konten. Ini soal pindah authority dan trust yang udah dibangun bertahun-tahun. Konten bisa di-copy, authority harus dipindahin manual.

Pre-Migration: Ceklis Sebelum Sentuh Apa-apa

Jangan pernah mulai migrasi tanpa backup lengkap. Saya pernah lihat blog 500+ artikel lenyap gara-gara export XML-nya corrupt. Ini checklist non-negotiable:

  • Backup Blogspot: Export XML lengkap (Settings > Other > Backup). Simpan di dua tempat.
  • Catat Semua URL: Pakai Screaming Frog (gratis sampai 500 URL) atau XML-sitemaps.com. Simpan CSV-nya. Ini bisa jadi nyawa nanti.
  • Domain Custom: Pastikan domain sudah aktif dan bisa diatur nameserver/ DNS-nya.
  • Hosting & SSL: Pilih hosting minimal support PHP 8.0+, MySQL 5.7+, dan SSL gratis (Let’s Encrypt). Saya biasanya pake provider yang bisa 1-klik install WordPress.
  • Catat Statistik: Simpan data Analytics & Search Console pre-migrasi minimal 30 hari terakhir. Jadi ada baseline.
Baca:  10 Hosting Luar Negeri Terbaik Untuk Blogger Indonesia (Versi 2025)

Setup WordPress: Dasar yang Jangan Diutak-atik Dulu

Sesudah install WordPress, jangan langsung install 30 plugin. Fokus dulu ke:

  1. Permalink Structure: Atur ke /%postname%/ atau /%year%/%month%/%postname%/ kalau Blogspot-mu pakai tanggal. Ini penting banget buat mapping nanti.
  2. SSL Enforcement: Pastikan https:// aktif di seluruh situs. Force redirect di .htaccess atau pakai plugin Really Simple SSL.
  3. Import Konten: Pakai Tools > Import > Blogger. Install plugin importer-nya. Cek semua gambar, internal link, dan komentar masuk.

Perhatian: Gambar di Blogspot biasanya di-host di *.bp.blogspot.com. Setelah impor, URL gambar masih nge-link ke sana. Kamu butuh plugin Auto Upload Images atau manual download-upload.

Teknik Redirect 1:1: Jantungnya Migrasi SEO

Ini bagian paling kritis. Kamu harus bikin redirect semua URL lama ke URL baru dengan status 301. Bukan 302, bukan meta refresh. Harus 301.

Metode 1: Plugin (Rekomendasi Buat Pemula)

Pakai Redirection by John Godley. Install, aktifin, lalu masukin mapping manual:

  • Source: /2019/05/judul-postingan.html (URL Blogspot)
  • Target: /judul-postingan/ (URL WordPress)
  • Regex: Aktifkan kalau mau bulk redirect.

Metode 2: .htaccess (Lebih Cepat, Lebih Teknis)

Buka file .htaccess di root WordPress. Tambahkan ini di atas semua rules WordPress:


# Redirect Blogspot to WordPress
RedirectMatch 301 ^/([0-9]{4})/([0-9]{2})/(.*)\.html$ https://domainbaru.com/$3/
RedirectMatch 301 ^/(.*)\.html$ https://domainbaru.com/$1/

Kode pertama handle URL dengan tanggal, kedua handle URL tanpa tanggal. Sesuaikan regex-nya sama struktur Blogspot-mu.

Warning: Salah edit .htaccess bisa bikin situs error 500. Backup dulu, edit via FTP, dan pastikan ada backup mental kalau harus rollback.

Handling Feed, Robots.txt, & Sitemap: Detail yang Dikacauin

Banyak migrasi gagal gara-gara lupa tiga hal ini:

  1. Feed/RSS: Blogspot punya feed di /feeds/posts/default. WordPress punya /feed/. Pastikan redirect feed juga ada. Subscriber yang pake RSS reader bakal ilang kalau ini diabaikan.
  2. Robots.txt: Blogspot punya robots bawaan. WordPress juga punya. Cek apakah ada block yang nggak perlu. Jangan sampai /wp-admin/ ke-index.
  3. Sitemap: Install Yoast SEO atau Rank Math untuk generate sitemap XML. Submit ke Google Search Console sebelum matiin Blogspot.
Baca:  5 Layanan Domain Luar Negeri Dengan Harga Perpanjangan Termurah

Post-Migration Testing: Jangan Langsung Nyalain Domain

Sebelum ganti nameserver domain, test dulu di staging:

  • Link Checker: Pakah Broken Link Checker plugin atau online tool. Semua link harus 200 atau 301.
  • Fetch as Google: Di Search Console, test fetch & render beberapa URL. Pastikan Googlebot bisa akses.
  • Speed Test: Blogspot biasanya cepat karena CDN-nya Google. WordPress kamu harus di-optimize. Cek di GTmetrix atau PageSpeed Insights.

Menginformasikan Google: Cara Resmi & Benar

Setelah semua redirect OK, baru ganti nameserver domain ke hosting WordPress. Lalu:

  1. Search Console: Tambahkan property domain baru (HTTPS). Verifikasi via DNS.
  2. Submit Sitemap: Submit sitemap_index.xml dari Yoast/Rank Math.
  3. Change of Address Tool: Di Search Console lama (Blogspot), pakai tool “Change of Address”. Ini kasih tahu Google secara resmi.
  4. Update Google Analytics: Ganti domain di property settings. Jangan bikin property baru, biar data historis tetap ada.

Monitoring & Troubleshooting: Minggu Pertama Kritis

Minggu pertama setelah migrasi adalah periode paling genting. Saya biasanya pantau:

MetrikAlatTarget
Index CoverageSearch ConsoleTurun sementara, naik lagi dalam 1-2 minggu
404 ErrorsSearch Console, Redirection plugin0 (atau turun drastis setelah fix)
Traffic OrganicGoogle AnalyticsStabil atau turun < 10% (normal)
Page Load TimePageSpeed InsightsMobile > 70, Desktop > 85

Common issues:

  • Redirect loop: Biasanya gara-gara SSL redirect ganda. Cek .htaccess dan plugin SSL.
  • Missing images: Gambar masih di Blogspot dan di-block. Download semua, upload ke WordPress, replace URL.
  • Komentar ilang: Importer Blogger kadang skip komentar nested. Cek manual.

Kesimpulan: Jangan Gegabah, Tapi Juga Jangan Takut

Migrasi Blogspot ke WordPress itu kayak ganti mesin mobil sambil jalan. Bisa jadi mulus, bisa jadi berisik. Kuncinya: jangan sentuh domain dulu sampai semua redirect & testing 100% clear.

Biaya waktu? Sekitar 4-8 jam untuk blog kecil (50-100 post), 1-2 hari untuk blog besar (500+ post). Biaya hosting? Mulai dari Rp 50rb/bulan untuk shared hosting yang cukup reliable. Jangan tergoda hosting murah tapi server down tiap minggu.

Jujur aja, kalau kamu nggak mau ribet, bayar jasa migrasi aja. Banyak yang ngasih harga Rp 500rb – 2 juta tergantung ukuran blog. Tapi sekarang kamu sudah tahu prosesnya. Kalau mau DIY, ikutin panduan ini langkah demi langkah. Slow is smooth, smooth is fast.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

5 Layanan Domain Luar Negeri Dengan Harga Perpanjangan Termurah

Kalau pernah beli domain murah di tahun pertama tapi kaget lihat tagihan…

5 Rekomendasi Hosting Murah Untuk Website Portofolio (Non-Indonesia)

Memilih hosting murah untuk website portofolio itu seperti cari sepatu murah buat…

Cara Mengatasi “Error Establishing a Database Connection” di Hosting Shared

Website mati tiba-tiba dengan tulisan “Error Establishing a Database Connection” adalah mimpi…

10 Hosting Luar Negeri Terbaik Untuk Blogger Indonesia (Versi 2025)

Blogging di platform gratis kayak Blogger.com atau WordPress.com memang gampang di awal,…