Masih pusing score PageSpeed stuck di 60-70 padahal sudah pasang LiteSpeed Cache? Tenang, ini masalah umum. Banyak yang kira cuma install plugin lalu otomatis hijau. Nyatanya, default setting itu cuma foundation. Tanpa tuning mendalam, cache-mu cuma ‘lemah’ dan malah jadi beban. Saya pernah mengalami hal yang sama: website klien e-commerce dengan traffic 50k/hari stuck di score 68. Setelah 2 jam tuning, akhirnya tembus 95. Begini caranya.

Pre-Optimization: Pastikan Dasar Mu Kuat

Sebelum kita main di settingan, ada prasyarat yang wajib dicek. Skip langkah ini, percuma saja nanti settingan canggihmu tidak optimal.

  • Server harus LiteSpeed/OpenLiteSpeed, bukan Apache/Nginx. Cek di hosting panel atau tanya support. Kalau pakai Apache, LSWC cuma jadi plugin biasa.
  • PHP Version minimal 8.0. PHP 7.4 sudah EOL. PHP 8.1+ memberikan perbedaan signifikan di speed.
  • HTTPS aktif dan forced. Tanpa ini, HTTP/2 dan QUIC tidak jalan. Pastikan semua asset load via HTTPS.
  • Disable plugin caching lain: WP Rocket, W3TC, atau WP Super Cache harus nonaktif. Tabrakan cache itu berbahaya.
  • Backup dulu. Export setting LSWC dari Tools > Export Settings. Kalau rusak, bisa restore dalam 1 menit.

Cache Settings: Ini Jantungnya

Masuk ke LiteSpeed Cache > Cache. Jangan sekadar centang semua. Ini settingan yang benar-benar berdampak:

1. Cache TTL: Atur Sesuai Kebutuhan

Default TTL 24 jam itu terlalu lama untuk konten dinamis. Saya biasa set:

  • Default Public Cache TTL: 3600 detik (1 jam). Cukup untuk blog biasa.
  • Default Front Page TTL: 600 detik (10 menit). Homepage biasanya paling sering berubah.
  • Default 404 Page TTL: 3600 detik. Jangan terlalu lama, nanti kalau sudah dibuat, tetap 404.
  • Default Feed TTL: 3600 detik. RSS feed tidak perlu terlalu fresh.

Pro tip: Kalau kamu punya membership site atau WooCommerce, turunkan TTL untuk logged-in users ke 120 detik. Ini mencegah user lihat data orang lain.

Baca:  10 Hosting Luar Negeri Terbaik Untuk Blogger Indonesia (Versi 2025)

2. Cache Rules: Kecualikan yang Tidak Perlu

Di bagian Cache > Exclude, masukkan URI yang tidak perlu di-cache:

  • /cart/*, /checkout/*, /my-account/* untuk WooCommerce.
  • /wp-admin/* sudah otomatis, tapi double-check.
  • /wp-login.php dan /wp-cron.php.

Image Optimization: Bukan Sekadar Kompress

LSWC punya Image Optimization built-in. Tapi jangan asal klik “Pull Images”. Lakukan ini:

  • Convert to WebP: Aktifkan, tapi jangan force semua. Cek dulu browser support. Saya biasa set Replace Images > WebP Replacement dengan WordPress Responsive.
  • Lazy Load: Aktifkan untuk images, iframes, dan video. Tapi kecualikan above-the-fold images seperti logo atau hero banner. Masukkan class no-lazyload di tag image tersebut.
  • Responsive Placeholder: Aktifkan. Ini mencegah layout shift (CLS). Masukkan nilai Low Quality Image Placeholder (LQIP) di 4-6. Jangan terlalu kecil, nanti blur banget.

Angka nyata: Optimasi gambar dengan LSWC bisa turunkan total page size dari 2.4MB ke 800KB tanpa quality loss.

CSS/JS Optimization: Hati-Hati di Sini

Ini bagian paling tricky. Salah set, website langsung break.

1. CSS Settings

  • CSS Minify: Aktifkan. Aman.
  • CSS Combine: Aktifkan, tapi test dengan hati-hati. Kadang theme/plugins punya CSS yang tidak compatible. Kalau break, masukkan CSS file yang bermasalah ke CSS > Exclude.
  • CSS HTTP/2 Push: Nonaktifkan. Sudah deprecated dan malah bikin slower di HTTP/3.
  • Generate Critical CSS: WAJIB AKTIFKAN. Ini paling berdampak. Set Async CSS juga aktif. Tunggu 15-30 menit untuk pertama kali generate.

2. JS Settings

  • JS Minify: Aktifkan.
  • JS Combine: Aktifkan, tapi perhatikan Excluded JS. Masukkan JS yang inline atau dependensi DOM tertentu.
  • Load JS Deferred: Aktifkan dengan mode Deferred (bukan Async). Ini mengatasi render-blocking.
  • Delay JS Execution: Ini fitur paling powerful. Delay JS yang tidak kritis seperti analytics, chat widget, ads. Masukkan ke Delayed List. Saya biasa delay google-analytics, facebook-pixel, tidio-chat.

Warning: Delay JS bisa bikin fungsi tidak jalan di first load. Test semua interaksi (button, form, menu mobile).

Database Optimization: Bersihkan Sampah

LSWC punya DB Optimization di menu Toolbox. Jangan sekadar klik “Clean All”. Pilih spesifik:

  • Revisions: Keep 2-3 revisions saja. Set Max Number of Revisions di 3.
  • Auto Drafts & Trashed Posts: Bersihkan seminggu sekali.
  • Expired Transients: Bersihkan harian. Ini sering jadi pemicu slow query.
  • Optimize Tables: Jalankan seminggu sekali, terutama setelah bulk edit.
Baca:  5 Hosting Terbaik Untuk Online Shop Woocommerce 2025

Schedule: Set cron job di LSWC untuk DB Optimization otomatis tiap Minggu pukul 02:00.

Advanced: Object Cache & ESI

Kalau website-mu punya dynamic content (contoh: harga real-time, counter visitor), aktifkan Object Cache. Tapi pastikan Redis/Memcached sudah aktif di server. Cek di LiteSpeed Cache > Cache > Object:

  • Method: Pilih Redis (lebih cepat) atau Memcached.
  • Host: localhost atau Unix socket path (tanya hosting).
  • Default Object Lifetime: 360 detik (6 menit). Cukup untuk cache query.

ESI (Edge Side Includes): Aktifkan kalau kamu pakai LiteSpeed Enterprise. Bisa cache fragment page (contoh: widget login yang beda per user). Tapi butuh konfigurasi server. Kalau pakai OpenLiteSpeed, skip dulu.

Testing & Verification: Jangan Asal Deploy

Setelah semua setting, jangan langsung puas. Test:

  1. Clear All Cache dari LSWC toolbar.
  2. Buka incognito mode, load homepage. Cek di DevTools > Network, pastikan header x-litespeed-cache: hit muncul.
  3. Run PageSpeed Insights 3 kali. Ambil median score. PSI suka fluktuatif.
  4. Cek di GTmetrix, fokus ke TTFB dan LCP. TTFB ideal < 600ms, LCP < 2.5s.
  5. Test fungsi: Login, cart, checkout, form, menu mobile. Pastikan tidak ada JS error.

Kesimpulan Penting: LiteSpeed Cache bukan tombol ajaib. Settingan default hanya memberikan 30% potensi. 70% sisanya ada di tanganmu: TTL tuning, CSS/JS optimization, dan image delivery. Kalau masih stuck, cek error log. Kadang conflict dengan security plugin seperti Wordfence atau Cloudflare APO.

Common Pitfalls & Solusi Cepat

MasalahPenyebabSolusi
Score turun setelah aktifkan LSWCCache belum terbentuk, atau settingan conflictClear cache, cek di DevTools header cache. Disable plugin lain.
Layout break (CSS/JS tidak load)Combine/CSS Critical terlalu agresifMasukkan file yang bermasalah ke Exclude list. Test satu per satu.
Cart/harga tidak updateCache TTL terlalu lama untuk logged-inTurunkan TTL user cache ke 120 detik. Exclude /cart/* dari cache.
PageSpeed tetap merah di mobileImage tidak responsive, atau LCP besarPastikan srcset aktif. Preload critical image. Lazy load semua di bawah fold.

Final Checklist: Skor 90+ dalam 30 Menit

Copy checklist ini, selesaikan satu per satu:

  1. ✓ PHP 8.0+, HTTPS forced
  2. ✓ Cache TTL: Public 3600, Front Page 600
  3. ✓ Generate Critical CSS + Async CSS aktif
  4. ✓ JS Deferred + Delay non-critical JS
  5. ✓ WebP aktif, lazy load dengan LQIP 4-6
  6. ✓ Exclude /cart/, /checkout/, /my-account/
  7. ✓ DB Optimization schedule mingguan
  8. ✓ Object Cache (Redis) aktif kalau support
  9. ✓ Test di incognito, cek header cache hit
  10. ✓ Run PSI 3x, cek median score

Sekarang coba implementasikan. Kalau masih bingung di step mana, cek error log di LiteSpeed Web Admin > Logs. Jangan ragu rollback setting kalau website jadi aneh. Ingat, optimasi itu iterasi, bukan sekali jadi. Selamat mencoba!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

5 Hosting Terbaik Untuk Online Shop Woocommerce 2025

Online shop WooCommerce Anda lambat di jam sibuk? Cart abandonment naik gara-gara…

Tips Memilih Hosting Luar Negeri Untuk Website WordPress Indonesia (Panduan 2025)

Website WordPress Anda lambat diakses dari Eropa atau Amerika? Atau Anda kesulitan…

Syarat dan Cara Daftar Domain .co.id Tanpa SIUP/NPWP (Update Persyaratan)

Domain .co.id emang jadi pilihan utama buat yang mau bangun kredibilitas bisnis…

Cara Mengatasi “Error Establishing a Database Connection” di Hosting Shared

Website mati tiba-tiba dengan tulisan “Error Establishing a Database Connection” adalah mimpi…