Hostinger sudah jadi andalan banyak pemula karena harganya yang bikin dompet senyum. Tapi di 2025 ini, dengan kompetitor makin agresif dan ekspektasi performa yang makin tinggi, pertanyaannya jadi lebih spesifik: apakah shared hosting mereka masih cukup tangguh atau sudah waktunya kamu naik kelas?

Saya sendiri sudah pakai Hostinger sejak versi 2017. Di artikel ini saya bakal kasih gambaran realistis dari sisi teknis, tanpa basa-basi marketing.

Harga: Murah Tapi Bukan Main-main

Paket Premium Shared Hosting di Hostinger sekarang start dari Rp 23.900/bulan (kalau ambil 48 bulan). Terdengar murah, tapi ada mekanisme di balik angka itu yang perlu kamu pahami.

Mereka tetap pakai model discount cycle—harga promo cuma untuk periode pertama. Renew bisa naik 2-3x lipat. Ini standar industri, tapi Hostinger masih jadi yang paling kompetitif di kelasnya.

harga Hostinger shared hosting

Bandwith & Resource Allocation Realistis

Yang bikin saya masih percaya: mereka nggak main-main dengan batasan. Bandwith “unlimited” di sini ada fair usage policy, tapi threshold-nya realistis—sekitar 50-100GB per bulan.

Untuk website portofolio, blog, atau toko kecil, ini lebih dari cukup. CPU limit di paket Premium sekitar 50% dari 1 core (bisa burst sampai 100% dalam durasi singkat). RAM 1GB.

Ini cukup untuk WordPress dengan 10-20 plugin aktif dan traffic harian 500-1000 visitor. Kalau kamu melebihi itu, expect slowdown atau 503 error.

Performa: SSD NVMe Bukan Sekadar Jargon

Sekarang masuk ke yang paling krusial. Hostinger sudah migrasi full SSD NVMe di semua paket shared hosting sejak Q3 2023. Ini perubahan signifikan.

Dari pengalaman saya, TTFB (Time To First Byte) rata-rata di server Singapore untuk audience Indonesia berkisar 180-250ms tanpa CDN. Pakai Cloudflare free tier, bisa turun ke 120-150ms.

Ini angka yang cukup respectable untuk shared hosting di bawah 50 ribu per bulan. Saya pernah benchmark dengan GTmetrix dan WebPageTest, hasilnya konsisten di grade B atau C untuk WordPress instalasi default.

Catatan penting: performa sangat tergantung pada node server yang kamu dapatkan. Node yang “beruntung” bisa jauh lebih cepat dari node yang overload. Ini risiko inherent di semua shared hosting.

Uptime & Stability: Data Nyata

Saya monitor beberapa website kecil di Hostinger paket Premium sejak Januari 2024. Uptime selama 12 bulan terakhir: 99.87%.

Baca:  Review Fastcomet: Hosting Murah Dengan Server Cepat?

Ini di bawah janji 99.9%, tapi masih dalam batas tolerable. Downtime terjadi paling sering di maintenance window (biasanya 30-60 menit per bulan) dan beberapa incident minor.

Incident terbesar terjadi di bulan Mei 2024, ada node di Singapore yang down 3 jam karena hardware failure. Support respons cukup cepat, tapi komunikasinya kurang proaktif.

Panel Kontrol: hPanel Bukan cPanel, Tapi Cukup

Ini yang bikin banyak engineer skeptis. Hostingen pakai hPanel (custom panel mereka). Dari sisi UX, ini lebih simpel dan modern dibanding cPanel.

Tapi dari sisi power user, ada beberapa fitur yang hilang atau tersembunyi. File manager-nya responsif, tapi tidak punya fitur bulk edit permission seperti cPanel.

Git deployment ada, tapi terbatas di paket Business ke atas. SSH access tersedia di semua paket, tapi port non-standard (65002) dan harus enable manual di security settings.

Yang saya suka: integrasi managed WordPress dan cache manager (LiteSpeed) sudah built-in. Kamu bisa purge cache langsung dari hPanel tanpa plugin tambahan.

Fitur Teknis yang Penting di 2025

Mari kita bahas fitur-fitur yang relevan untuk kebutuhan modern:

  • PHP 8.3 Support: Sudah available sejak Desember 2024. Kamu bisa set per-folder PHP version, berguna untuk multi-project.
  • HTTP/3 & QUIC: Sudah enable di LiteSpeed server. Ini bantu speed untuk user di mobile network.
  • Auto Installer: Softaculous masih ada, tapi versi yang agak outdated. Untuk WordPress, mending install manual atau pakai hPanel’s WordPress Manager.
  • Backup: Weekly backup di Premium, daily di Business. Restore via hPanel cukup mudah, tapi backup tidak guaranteed. Saya selalu anjurkan buat backup eksternal.
  • Security: Immunify360 di semua server, tapi di shared hosting level paket murah, proteksinya terbatas. Brute force protection ada, tapi kamu tetap harus jaga credential sendiri.

Support Experience: Cepat Tapi Tidak Selalu Deep

Live chat support rata-rata response time 2-5 menit. Untuk issue sederhana seperti DNS setup atau SSL install, mereka cukup kompeten.

Baca:  Scalahosting Review 2025: Performanya Beneran Selevel Premium?

Tapi kalau masalah sudah ke arah debugging error log atau misconfigurasi script, level 1 support akan minta waktu lama atau eskalasi. Tiket support (untuk paket Business ke atas) biasanya direspon dalam 24 jam.

Eskalasi ke level 2 bisa butuh 48-72 jam. Ini standar untuk shared hosting murah, tapi jangan expect enterprise-level support.

Perbandingan Langsung dengan Kompetitor

Mari kita buat perbandingan realistis untuk shared hosting di bawah 100 ribu:

FiturHostinger PremiumNiagahoster PelangganDomainesia Personal
Harga Renew~Rp 150k/tahun~Rp 180k/tahun~Rp 165k/tahun
Storage100GB NVMeUnlimited SSD5GB SSD
RAM1GB1GB512MB
Uptime (monitor)99.87%99.92%99.85%
PanelhPanelcPanelcPanel
HTTP/3

Hostinger unggul di storage NVMe dan HTTP/3. Niagahoster lebih baik di uptime dan support lokal. Domainesia paling murah tapi resource paling terbatas.

Use Case: Kapan Hostinger Masih Worth It?

Berdasarkan pengalaman deploy ratusan website, ini scenario yang masih cocok:

  • Website portofolio/pribadi: Perfect. Murah, cepat, gampang manage.
  • Blog konten sederhana: WordPress + 5-10 plugin, traffic < 5k/bulan. Masih aman.
  • Toko online kecil: WooCommerce dengan < 50 produk, traffic < 100 visitor/hari. Bisa, tapi harus paket Business dan optimasi cache ketat.
  • Staging/development: Sangat worth it. Murah, bisa buat banyak subdomain.

Yang tidak cocok: Website dengan traffic viral (>10k visitor/hari), aplikasi custom heavy (Laravel, Node.js), atau yang butuh resource CPU/RAM tinggi. Langsung ke VPS atau Cloud.

Kesimpulan: Worth It dengan Catatan

Hostinger shared hosting masih worth it di 2025, tapi bukan untuk semua orang. Value proposition utamanya tetap harga murah dengan teknologi modern (NVMe, HTTP/3).

Untuk pemula, blogger, atau UKM kecil, ini adalah entry point terbaik. Tapi kalau kamu sudah punya traffic stabil di atas 5k per hari atau butuh uptime guarantee 99.9%, mulai pertimbangkan upgrade ke VPS Cloud mereka atau pindah ke provider yang lebih premium.

Triks terbaik: Pakai Hostinger untuk tahun pertama, optimize sekuat mungkin. Kalau website tumbuh, migrate ke tier yang lebih tinggi. Jangan terjebak di shared hosting terlalu lama kalau bisnis sudah scale.

Saya rekomendasikan paket Business kalau budget cukup. Beda 50 ribuan tapi dapat daily backup, resource lebih gede, dan priority support.

Kalau maksimal murah, Premium masih oke asal kamu rajin backup manual dan monitor uptime. Intinya: Hostinger masih jadi raja budget hosting di 2025, tapi kamu harus realistis dengan batasannya.

Pahami constraint, optimize seoptimal mungkin, dan siap upgrade ketika saatnya tiba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Fastcomet: Hosting Murah Dengan Server Cepat?

Hosting “murah dan cepat” sering terdengar seperti oxymoron di telinga engineer. Pengalaman…

Kenapa Banyak Pengguna Berhenti Pakai Hostgator? (Studi Kasus Review)

HostGator pernah jadi raja shared hosting dengan harga murah dan fitur melimpah.…

Hostgator Review Untuk Pemula: Bagus Atau Banyak Masalahnya?

Pilih hosting pertama kali itu seperti beli motor bekas. Kalau pas, bisa…

Scalahosting Review 2025: Performanya Beneran Selevel Premium?

Pernah nggak sih, beli hosting mahal-mahal dengan janji “performa premium”, tapi pas…