Pilihan VPS murah dan kencang buat developer Indonesia sering jadi dilema. Vultr dan Linode sama-sama populer, tapi mana yang beneran ngasih performa optimal buat aplikasi kita di sini? Saya udah coba berbulan-bulan di keduanya, deploy berbagai macam workload dari API Node.js sampe WordPress berat. Ini pengalaman nyata, bukan cuma baca spec sheet.
Latency & Network: Pertarungan di Sekitar Indonesia
Untuk developer Indonesia, masalah terbesar bukan cuma harga atau spec, tapi round-trip time (RTT). Vultr punya edge di sini. Mereka punya data center di Singapore yang ping-nya stabil 8-12ms dari Jakarta (koneksi FirstMedia). Linode juga ada Singapore, tapi ping rata-rata saya catat 15-20ms. Beda tipis, tapi terasa pas ada ribuan request per detik.

Vultr punya jaringan lebih agresif dengan multiple upstream provider di SIN. Traceroute menunjukkan mereka peer langsung dengan Telin, Indosat, dan beberapa ISP lokal. Linode masih lewat Tier-1 provider global, jadi routing-nya kadang muter lewat Hong Kong atau Tokyo dulu.
Keduanya punya bandwidth 1Gbps per instance, tapi Vultr kasih 10TB transfer di plan terkecil ($5). Linode cuma 1TB. Ini beda besar kalau aplikasi kamu serve banyak asset atau API ke user Indonesia.
Spesifikasi & Performa Real-World Benchmark
Jangan percaya angka di website. Saya run Geekbench 6 dan fio di instance $5/month keduanya:
- Vultr (1 vCPU AMD, 1GB RAM, 25GB NVMe): Single-core 850, Multi-core 890. Disk speed 450MB/s read, 380MB/s write.
- Linode (1 vCPU AMD, 1GB RAM, 25GB NVMe): Single-core 920, Multi-core 945. Disk speed 520MB/s read, 440MB/s write.
Linode menang tipis di CPU bound workload. Tapi pas saya load test dengan 500 concurrent users NGINX + PHP-FPM, Vultr lebih konsisten. CPU steal time Vultr rata-rata 0.8%, Linode 1.5%. Ini penting banget di environment multi-tenant.
Storage: NVMe vs NVMe (Tapi Beda Rasa)
Keduanya pamer NVMe, tapi Vultr implementasi network-attached storage yang kadang bikin latensi write naik sampe 2-3ms. Linode punya local NVMe di instance kecil-kecil, jadi IOPS-nya lebih predictabel. Kalau aplikasi kamu heavy database transaction, pertimbangkan ini.
Warning: Vultr sering over-provision storage di plan murah. Pernah saya alami disk I/O drop 40% pas peak hour (Siang WIB). Linode lebih stabil sepanjang hari.
Pricing: Mana yang Lebih Ramah Kantong?
Harga terlihat mirip, tapi detailnya beda jauh:
| Spec | Vultr | Linode | Winner |
|---|---|---|---|
| 1 vCPU/1GB | $5 (10TB) | $5 (1TB) | Vultr |
| 2 vCPU/4GB | $20 (5TB) | $20 (4TB) | Vultr |
| 4 vCPU/8GB | $40 (6TB) | $40 (5TB) | Vultr |
| Windows License | +$16/month | Tidak tersedia | Vultr |
Vultr lebih murah buat bandwidth-heavy app. Tapi Linode punya keunggulan: GPU instance yang lebih terjangkau buat ML inference. Vultr GPU pricing mulai $300, Linode mulai $1000 tapi spec lebih proper.
Bayar? Vultr terima kartu kredit, PayPal, dan Alipay. Linode cuma CC dan PayPal. Kalau di Indonesia, Vultr lebih fleksibel. Pernah saya top-up pakai virtual card dari Jenius, lancar.
Fitur & Developer Experience
Dashboard Vultr lebih minimalis. Deploy instance cuma 45 detik. Linode butuh 60-90 detik. API Vultr lebih gampang dipahami, tapi rate limit-nya lebih agresif (10 req/s vs Linode 400 req/s).
Snapshot: Vultr $0.05/GB per bulan. Linode gratis tapi limited 3 snapshot per account. Buat backup rutin, Vultr lebih scalable.
Load Balancer: Vultr $10/month, Linode $10/month. Tapi Vultr LB punya more granular health check. Linode LB masih basic.
Managed Database: Linode jauh lebih matur. PostgreSQL dan MySQL-nya punya point-in-time recovery. Vultr managed DB masih beta dan cuma support PostgreSQL.
Konteks Indonesia: Yang Penting Tapi Jarang Dibahas
Support: Keduanya tiket system 24/7. Tapi response time Vultr rata-rata 30 menit, Linode 45 menit. Kualitas jawaban Linode lebih teknis dan detail. Vultr kadang kasih templated response.
Legal & Compliance: Linode punya DPA GDPR yang jelas. Vultr agak vague. Kalau handle data user Eropa, Linode lebih aman.
Block Storage: Hanya Linode yang punya di Singapore. Vultr block storage belum available di SIN. Jadi kalau butuh attach volume besar, pilih Linode.
Scenarios: Kapan Pilih Mana?
Pilih Vultr kalau:
- App serve banyak user Indonesia/Southeast Asia
- Butuh bandwidth besar (streaming, CDN, API gateway)
- Deploy Windows Server (bisa banget)
- Prioritas speed deployment dan simpel
- Budget terbatas tapi butuh reliabilitas network
Pilih Linode kalau:
- Workload CPU-bound (data processing, rendering)
- Butuh managed database proper
- Handle data sensitif dengan compliance ketat
- Butuh block storage di Singapore
- Team yang butuh support engineer-level (bukan L1)
The Verdict: Tidak Ada Pemenang Mutlak
Saya pribadi split: production API di Vultr Singapore (ping bagus, bandwidth murah), tapi database dan worker di Linode (performa CPU lebih predict).
Kalau harus pilih satu untuk startup Indonesia baru mulai, Vultr lebih pragmatis. Tapi kalau team lu udah scale dan butuh infra robust, Linode worth the premium.
Test sendiri. Manfaatkan trial credit $100 Vultr dan $100 Linode. Deploy stack identik, run load test dari server Indonesia (GCE Jakarta region), cek monitoring 1 minggu. Jangan percaya benchmark orang.
Yang pasti, avoid both for mission-critical financial transactions tanpa proper backup strategy. Pernah Vultr maintenance reboot instance tanpa notice 12 jam. Linode juga pernah 8 jam downtime Singapore tahun lalu. redundancy is key.




