Dengan gelar “Hosting Resmi WordPress.org” yang disandangnya, DreamHost sering jadi pilihan pertama bagi pemula yang bingung milih hosting. Tapi label resmi itu sendiri tidak otomatis jaminan kualitas. Pertanyaannya: apakah performa di lapangan sesuai hype? Setelah mengelola beberapa proyek klien di DreamHost dan mengujinya secara langsung, saya punya cerita nyata soal apa yang bagus, apa yang mengecewakan, dan kapan kamu sebaiknya memilihnya.

Apa Artinya “Hosting Resmi WordPress.org”?
Sebelum terjun lebih dalam, penting untuk paham: WordPress.org hanya merekomendasikan tiga hosting—Bluehost, SiteGround, dan DreamHost. Kriteria utamanya sederhana: dukungan PHP terbaru, database MySQL yang stabil, dan customer support yang mengerti WordPress. DreamHost memenuhi syarat itu, tapi rekomendasi bukan berarti yang terbaik untuk semua kasus.
DreamHost masuk daftar karena mereka menawarkan environment yang WordPress-friendly: one-click installer, auto-update, dan dukungan SSL gratis via Let’s Encrypt. Tapi fitur serupa juga ditawarkan pesaing. Jadi, yang membedakan?
Performa di Lapangan: Cepat atau Cuma Biasa?
Saya deploy staging site WordPress dengan tema Astra + Elementor di shared hosting DreamHost plan Shared Unlimited. Hasilnya? Time to First Byte (TTFB) rata-rata 600-800ms dari lokasi server AS. Untuk situs blog sederhana, ini masih acceptable. Tapi begitu traffic naik ke 30-50 pengunjung simultan, TTFB melonjak ke 1.2-1.5 detik.
Cache bawaan mereka (OPcache + memcached) membantu, tapi kamu harus aktifkan manual di panel. Tanpa optimasi tambahan, skor GTmetrix cuma mentok di 75-80. Bandingkan dengan SiteGround yang punya SG Optimizer bawaan, DreamHost butuh usaha lebih banyak untuk capai skor serupa.
Panel Kontrol: Bukan cPanel, Tapi Custom Panel Sendiri
Ini yang paling terasa beda. DreamHost pakai panel custom buatan sendiri, bukan cPanel. Bagi yang terbiasa cPanel, butuh adaptasi. Menu-menu tersebar, dan navigasi tidak se-intuitif cPanel. Nyari phpMyAdmin? Harus klik beberapa level. Setting cron job? Formatnya beda.
Keuntungannya: panel ini ringan dan tidak terlalu berat dimuat. Kekurangan: dokumentasi yang spesifik untuk panel DreamHost terbatas. Kalau kamu developer yang butuh akses cepat ke banyak tool, ini bisa jadi dealbreaker.
Beberapa Fitur Penting di Panel DreamHost
- One-Click WordPress Install: Bisa pilih install biasa atau DreamHost-specific (dengan beberapa plugin pre-installed).
- SSL Let’s Encrypt: Aktif otomatis, tapi kadang butuh 15-30 menit untuk propagate.
- PHP Version Selector: Bisa ganti versi PHP per domain, tapi perubahan butuh beberapa menit untuk efektif.
- Backup Manual: Backup on-demand tersedia, tapi hanya retensi 2 minggu di plan termurah.
Harga: Terlihat Murah, Tapi Renewal Bikin Kaget
Harga promo DreamHost memang kompetitif: Shared Starter sekitar $2.59/bulan untuk 3 tahun. Tapi begitu periode promo habis, renewal harganya melonjak ke $7.99/bulan. Itu artikan kenaikan hampir 3x.
Plan Shared Unlimited (yang lebih masuk akal untuk multi-site) promo $3.95/bulan, renewal $10.99/bulan. Bandingkan dengan SiteGround yang renewal-nya $14.99/bulan, DreamHost masih lebih murah. Tapi ingat: SiteGround sudah include fitur premium seperti staging dan caching advanced.
| Fitur | DreamHost Shared Unlimited | SiteGround GrowBig | Bluehost Plus |
|---|---|---|---|
| Harga Promo (per bulan) | $3.95 | $6.69 | $5.45 |
| Harga Renewal (per bulan) | $10.99 | $24.99 | $13.99 |
| Website | Unlimited | Unlimited | Unlimited |
| Storage | Unlimited | 20 GB | Unlimited (SSD) |
| Staging | Tidak ada | Ada | Ada |
| Support 24/7 | Live Chat & Email (jam terbatas) | Live Chat & Phone 24/7 | Live Chat & Phone 24/7 |
Support: Responsif Tapi Tidak 24/7 Live Chat
Ini poin kritis. DreamHost tidak menawarkan live chat 24/7. Mereka punya live chat, tapi hanya tersedia pada jam-jam sibuk (sekitar jam 8 AM – 5 PM PST). Di luar jam itu, kamu cuma bisa email atau tiket. Response time email rata-rata 4-6 jam untuk kasus non-prioritas.
Pengalaman saya: saat site down di jam 11 malam, saya harus nunggu sampai pagi untuk dapat respon. Untuk developer atau bisnis yang butuh support instan, ini masalah besar. Tapi untuk personal blog dengan traffic rendah, mungkin tidak terlalu kritis.
Tim support mereka cukup teknis dan mengerti WordPress. Dibandingkan Bluehost yang kadang kasih templated answer, DreamHost lebih spesifik. Tapi lagi-lagi, availability adalah kunci.
Fitur Unlimited: Baca Fine Print-nya
Seperti kebanyakan hosting unlimited, ada batasan yang tidak terlihat. DreamHost punya “Fair Use Policy” yang membatasi CPU usage maksimal 50% dalam 2 menit. Jika site kamu tiba-tiba viral dan traffic spike, bisa kena throttle tanpa warning.
Database size juga dibatasi 3GB per database di shared hosting. Untuk WooCommerce dengan banyak produk, ini bisa jadi masalah dalam 1-2 tahun. Bandingkan dengan SiteGround yang punya limit 750MB tapi lebih transparan di awal.
Solusi: Jika kamu anticipasi traffic tinggi, langkah ke DreamPress (managed WordPress hosting) seharga $16.95/bulan adalah wajib. Performa di sana jauh lebih baik dengan caching object built-in dan support prioritas.
Keamanan: Standar Industri, Tapi Tambahan Berbayar
DreamHost sudah include:
- Firewall bawaan
- ModSecurity rules yang di-update otomatis
- Free SSL Let’s Encrypt
- Multi Factor Authentication (MFA) untuk panel
Tapi fitur keamanan premium seperti malware scan dan removal tidak gratis. Kamu harus beli add-on DreamShield seharga $3/bulan. Padahal di SiteGround, fitur ini sudah include di plan mid-tier. Jadi hitung-hitungan total cost of ownership harus include add-on ini.
Kapan DreamHost Layak Dipilih?
Setelah semua pro-kontra, ini skenario di mana DreamHost masuk akal:
- Personal blog/portfolio: Traffic rendah, budget minim, dan kamu tidak butuh support 24/7.
- Developer yang mandiri: Kamu bisa troubleshoot sendiri dan cuma butuh server yang stabil.
- Proyek jangka panjang (3 tahun): Lock-in harga promo $2.59/bulan sangat worth it.
- Multi-site kecil: Unlimited domain di satu akun sangat berguna untuk agency yang manage banyak proyek kecil.
Jangan pilih DreamHost jika:
- Kamu butuh support instan 24/7 (pilih SiteGround atau Kinsta).
- Antisipasi traffic tinggi atau viral (limit CPU akan jadi masalah).
- Kamu butuh staging site di shared hosting (DreamHost tidak ada fitur ini).
- Prefer cPanel untuk kemudahan (DreamHost pakai panel custom).
Kesimpulan: Worth It untuk Segmen Tertentu
DreamHost bukan hosting sempurna, tapi juga bukan scam. Label resmi dari WordPress.org mereka dapatkan karena memenuhi syarat teknis minimum dan komitmen kontribusi ke ekosistem WordPress. Tapi untuk kebutuhan real-world, performanya cuma “cukup baik” untuk segmen entry-level.
Jika kamu cari hosting murah untuk jangka panjang dan mampu handle troubleshooting sendiri, DreamHost adalah value for money. Tapi jika kamu prioritaskan performa, support premium, dan fitur developer-friendly, tambah sedikit budget ke SiteGround atau Cloudways jauh lebih masuk akal.
Final Verdict: DreamHost layak untuk pemula yang butuh hosting murah dan stabil untuk blog personal. Tapi untuk business atau profesional, investasi di layanan managed WordPress premium akan memberikan ROI lebih tinggi dari segi waktu dan peace of mind.




