Kalau kamu lagi bimbang antara Google Cloud Hosting dan AWS Lightsail, cuma satu pertanyaan yang bikin pusing: manakah yang benar-benar lebih murah? Bukan sekadar harga di kalkulator, tapi total biaya sampai website benar-benar jalan stabil. Sebagai engineer yang pernah kaget lihat tagihan cloud, aku bakal bantu kamu hitung sampai ke detail paling nyebelin: egress fee, hidden cost, dan effort operasional.

Model Harga: Flat vs Pay-per-Use

AWS Lightsail pakai model flat-rate. Kamu bayar $3.5 – $160 per bulan, sudah termasuk VPS, bandwidth, storage, dan snapshot dasar. Harga yang tertera = tagihan yang muncul. Sederhana, prediktabil, bikin tenang.

Google Cloud Hosting (Compute Engine) pakai model pay-per-use per detik. Mesin n1-standard-1 (1 vCPU, 3.75 GB RAM) kira-kira $24.27 per bulan jika jalan 24/7. Tapi ini belum termasuk egress, storage, dan fitur opsional. Harga terlihat murah, tapi bisa membengkak tanpa aba-aba.

Bottom line: Lightsail lebih aman buat pemula atau project kecil. Google Cloud lebih fleksibel, tapi butuh skill untuk mengoptimalkan biaya.

Biaya Tersembunyi yang Sering Luput

Bandwith di Lightsail sudah termasuk paket. Contoh: instance $5/month dapat 2 TB transfer. Kalau lewat? Speed diturunkan, tapi tidak kena charge ekstra. Kamu aman.

Google Cloud? Bandwidth keluar (egress) dihitung per GB. Pertama 1 GB gratis, lalu $0.12/GB untuk region US. Kalau website-mu tiba-tiba viral dan keluar 5 TB, tagihan bertambah $600 hanya untuk bandwidth. Ini yang sering bikin engineer ngelus dada.

Contoh Real-World: Website Company Profile

Bayar web sederhana dengan traffic 500 pengunjung per hari, 1 GB data per bulan.

  • Lightsail $5/month: Sudah cukup. Tagihan tetap $5.
  • Google Cloud (e2-micro): Gratis tier (1 vCPU, 1 GB RAM) tapi terbatas. Kalau upgrade ke e2-small: ~$18/month + egress $0.12 = $18.12.
Baca:  Liquid Web Vs Nexcess: Mana Managed Hosting Yang Lebih Stabil?

Kalau traffic naik 10x? Lightsail tetap $5 (speed diturunkan). Google Cloud jadi $180 + egress. Lihat perbedaannya?

Performa per Dollar: Siapa Paling Worth It?

Lightsail $10/month dapat 1 vCPU, 2 GB RAM, 60 GB SSD, dan 3 TB transfer. Performa konsisten, tapi tidak bisa dipilih CPU generasi terbaru.

Google Cloud e2-medium (2 vCPU, 4 GB RAM) sekitar $33/month. Tapi kamu dapat prosesor Intel/AMD terbaru, custom machine type, dan bisa pakai sustained use discount otomatis (potongan hingga 30% jalan 24/7).

Untuk workload CPU-intensive (seperti video encoding), Google Cloud lebih efisien. Tapi untuk website WordPress biasa, Lightsail cukup dan lebih murah.

Kemudahan Penggunaan: Waktu = Uang

Lightsail punya dashboard super sederhana. Klik “Create instance”, pilih aplikasi (WordPress, LAMP), dan dalam 2 menit sudah jalan. SSL dari Let’s Encrypt bisa di-attach satu klik. Kamu tidak perlu pusing VPC, firewall rules, atau IAM.

Google Cloud butuh setup lebih banyak: buat project, atur VPC, firewall, assign static IP, dan configure billing alarm dulu. Butuh waktu 15-30 menit untuk setup dasar. Kalau kamu belum familiar, bisa habis satu hari cuma untuk hello world.

Dari sisi effort, Lightsail menang telak. Waktu kamu ngurus server bisa dipakai ngoding atau cari client.

Feature Lock-in: Fleksibilitas Punya Harga

Mau pindah dari Lightsail ke EC2? Bisa, tapi butih snapshot dan migrate manual. Lightsail adalah “sandbox” AWS. Kalau aplikasi besar, nanti tetap harus pindah ke EC2 atau Elastic Beanstalk.

Google Cloud? Dari e2-micro bisa langsung scale ke mesin 64 vCPU tanpa reboot. Bisa pakai Cloud SQL, Load Balancer, CDN secara native. Tidak perlu pindah platform. Fleksibilitas ini valuable kalau kamu tahu aplikasi akan tumbuh cepat.

Warning: Jangan pilih Lightsail hanya karena murah, lalu force-fit aplikasi kompleks. Migrate nanti bisa lebih mahal dan berdarah-darah.

Perbandingan Spesifikasi dan Harga

ParameterAWS Lightsail $10Google Cloud e2-medium
vCPU1 core (generasi lama)2 vCPU (Intel/AMD terbaru)
RAM2 GB4 GB
Storage60 GB SSD10 GB SSD (bisa add lebih)
Bandwidth3 TB keluar (gratis)Bayar per GB ($0.12/GB)
Backup Snapshot3 manual gratisBayar per GB stored
Load Balancer$18/month tambahan$0.025/hour + egress
Tagihan Bulanan (estimasi)$10 tetap$33 – $100+ (tergantung traffic)
Baca:  Vultr Vs Linode: Mana Vps Yang Lebih Kencang Untuk Developer Indonesia?

Use Case: Kapan Pilih Mana?

Pilih AWS Lightsail jika:

  • Website personal, blog, atau company profile dengan traffic < 50k visitor/bulan.
  • Kamu mau prediktabil tagihan tanpa billing alarm.
  • Skill server minimal, butuh jalan cepat.
  • Butuh email hosting (Lightsail bisa integrasi dengan WorkMail).

Pilih Google Cloud jika:

  • Traffic fluktuatif (bisa turun naik 10x dalam sehari).
  • Butuh Big Data, AI/ML, atau integrasi dengan Google services.
  • Punya engineer yang bisa setup auto-scaling dan monitoring cost.
  • Aplikasi butuh custom spec (RAM besar, CPU sedikit, atau sebaliknya).

Triks Menghemat di Kedua Platform

Di Lightsail:

  • Pakai instance terkecil dulu, upgrade kalau CPU konsisten >70%.
  • Aktifkan snapshot otomatis mingguan, bukan harian.
  • Matikan instance saat tidak dipakai (dev environment).

Di Google Cloud:

  • Pakai preemptible VMs untuk workload non-critical (hemat 80%).
  • Aktifkan billing alerts di 50%, 80%, dan 100% budget.
  • Gunakan Cloud CDN untuk cache, mengurangi egress ke origin.
  • Pilih region yang lebih murah (us-central1, us-east1).

Kesimpulan: Tidak Ada Jawaban Mutlak

Pilihan paling ekonomis tergantung jenis project dan skill tim.

Lightsail menang di Total Cost of Ownership (TCO) untuk project kecil. Kamu tidak perlu engineer dedicated untuk monitoring cost, dan tagihan selalu sama. Nilai “ketenangan” ini sering diabaikan di spreadsheet.

Google Cloud menang di skalabilitas dan long-term efficiency. Kalau aplikasi kamu punya potensi tumbuh besar, biaya awal yang lebih tinggi dibayar dengan fleksibilitas dan performa yang lebih baik per dollar.

Untuk 90% website sederhana, aku rekomendasikan Lightsail. Kalau kamu startup yang punya devops atau butuh big data, Google Cloud lebih worth it.

Final thought: Mulai dari Lightsail. Kalau traffic naik dan kamu mulai bayar >$50/month, itu tanda untuk evaluasi migrate ke Google Cloud atau EC2. Jangan over-engineer dari hari pertama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Cloudways Review 2025: Apakah Hosting Cloud Ini Worth It Untuk Umkm?

Shared hosting sudah ngos-ngosan pas traffic rame. Website lambat, error 503, calon…

Cloudways Vs Runcloud: Mana Panel Hosting Terbaik Untuk WordPress?

Pilihan antara Cloudways dan RunCloud sering bikin developer WordPress bingung. Kedua platform…

Vultr Vs Linode: Mana Vps Yang Lebih Kencang Untuk Developer Indonesia?

Pilihan VPS murah dan kencang buat developer Indonesia sering jadi dilema. Vultr…

Digitalocean App Platform Review: Lebih Mudah Dari Vps Biasa?

Deploy aplikasi di VPS rasanya seperti urus server fisik di rak sendiri—SSH,…