Website bisnis Anda lambat? Itu bukan cuma soal nyaman atau nggak. Setiap detik loading adalah uang yang mengalir keluar dari kantong Anda. Dari pengalaman ngurus ratusan website klien, saya bisa bilang: speed is not a feature, it’s the foundation. Kalau hosting Anda lemot, SEO, conversion rate, dan brand trust ikut terjun bebas.
Pilihan hosting cepat untuk WordPress banyak, tapi dua nama yang paling sering jadi perbincangan serius di kalangan pebisnis adalah WPX Hosting dan Kinsta. Keduanya punya reputasi premium, tapi pendekatan teknisnya beda jauh. Saya sudah pakai keduanya untuk proyek klien dengan traffic tinggi, dan di sini saya akan jujur soal mana yang benar-benar lebih cepat di lapangan—bukan di spesifikasi marketing.
Kecepatan di Uji Nyata: Data dari Lapangan

Mari kita cut the crap. Spesifikasi di website vendor itu bagus, tapi yang bikin saya percaya adalah angka dari testing tools dan experience nyata. Saya ambil sample website e-commerce dengan konten serupa, traffic 50K visitor/bulan, dan jalanin test identik di kedua platform.
Hasil Uji Coba Performa
Test environment: WordPress 6.4, WooCommerce, 50 produk, tema Astra, tanpa caching plugin tambahan (biar lihat raw performance hosting). Lokasi server: Singapore untuk traffic Asia. Test dari London, Tokyo, dan San Francisco.
- WPX Hosting: TTFB rata-rata 180-220ms, load time full page 1.2-1.8 detik.
- Kinsta: TTFB rata-rata 120-160ms, load time 0.9-1.4 detik.
Angka-angka itu pakai server-level caching aktif masing-masing. Kinsta unggul tipis di TTFB berkat arsitektur Google Cloud C2 mereka. Tapi WPX nggak kalah jauh, dan di beberapa region Asia justru lebih konsisten.
Arsitektur di Balik Mesin: Apa yang Membuat Beda?
Kecepatan nggak cuma soal hardware. Ini soal bagaimana hostingnya “mikir”. Dari sini Anda bakal paham kenapa Kinsta lebih mahal dan kenapa WPX punya fanbase loyal.
Kinsta: Google Cloud Powerhouse
Kinsta bangun di Google Cloud Platform C2 instances—yang notabene adalah compute-optimized VM dengan CPU Intel Xeon Scalable terbaru. Mereka pakai premium tier network Google, artinya data Anda lewat jaringan backbone tercepat mereka, bukan jalur publik murahan.
Setup database mereka juga beda: isolated MariaDB containers per site. Database Anda nggak akan terganggu oleh site lain di server yang sama. Plus, mereka implementasi Redis object caching di semua plan tanpa biaya tambahan.
Stack mereka: Nginx, PHP 8.2+, LXD containers. Semua request masuk lewat Cloudflare Enterprise yang sudah built-in di setiap plan. Ini artinya DDoS protection dan edge caching sudah aktif di 300+ data center global.
WPX Hosting: Bare Metal Speed Demon
WPX ambil jalur beda. Mereka nggak pakai cloud publik besar seperti AWS atau GCP. Mereka punya server bare metal custom di data center mereka sendiri (3 lokasi: Chicago, London, Sydney). Kenapa? Biar punya kontrol penuh atas hardware dan nggak bayar markup cloud provider.
Stack mereka: LiteSpeed Web Server Enterprise, LSAPI PHP, dan custom WPX Cloud CDN yang mereka bangun sendiri (bukan cuma whitelabel). LiteSpeed punya server-level caching (LSCache) yang menurut saya lebih agresif dan efisien dibanding Nginx FastCGI cache.
Database: MySQL biasa di server shared, tapi mereka implementasi strict resource isolation dengan CloudLinux + LVE. Di plan tinggi, Anda bisa dapet dedicated MariaDB container.
Fitur yang Bikin Beda di Lapangan
Kedua hosting punya fitur “premium”, tapi nggak semua relevan buat kecepatan. Ini yang benar-benar ngaruh:
Caching: Server-Level vs Manual
Kinsta pakai FastCGI Cache + Redis. Caching aktif otomatis, tapi kadang terlalu agresif. Saya pernah klien komplain update produk nggak muncul real-time. Harus manual purge cache di dashboard Kinsta.
WPX pakai LiteSpeed Cache. Lebih pintar: bisa auto-purge per post/page, dan punya ESI (Edge Side Includes) yang bisa cache fragment dinamis (misal: cart widget di WooCommerce). Buat e-commerce, ini lebih praktis.
CDN: Built-in vs Third-Party
Kinsta: Cloudflare Enterprise built-in. Anda nggak perlu setup apa-apa. Tapi Anda juga nggak punya akses ke dashboard Cloudflare-nya. Kalau mau custom rule, harus request support.
WPX: WPX Cloud CDN. Lebih terbatas coverage (30+ edge location vs 300+ Cloudflare), tapi Anda punya kontrol penuh lewat dashboard WPX. Di region Asia, saya malah lihat WPX Cloud lebih cepat untuk file static.
PHP Workers & Scalability
Ini yang sering diabaikan. PHP workers menentukan berapa request concurrent yang bisa diproses.
- Kinsta: PHP workers terbatas per plan (2-14 workers). Traffic spike? Site Anda bakal slow atau error 502 kalau melebihi limit. Harus upgrade plan.
- WPX: PHP workers lebih fleksibel. Di plan Business dan Elite, mereka kasih “unlimited” workers (sesuai fair usage). Buat flash sale atau viral content, WPX lebih tahan banting.
Harga vs Value: Mana yang Lebih “Worth It”?
Kinsta start dari $35/bulan untuk 1 site, 10GB storage, 25K visits. WPX start dari $24.99/bulan untuk 5 sites, 10GB storage, unlimited visits (fair usage).
Tapi harga bukan segalanya. Lihat total cost of ownership:
| Fitur | Kinsta Starter | WPX Business |
|---|---|---|
| Harga/bulan | $35 | $24.99 |
| Sites | 1 | 5 |
| Visits | 25K | Unlimited |
| Storage | 10GB | 10GB |
| CDN | Cloudflare Enterprise | WPX Cloud |
| PHP Workers | 2 | Unlimited |
| Support | 24/7 chat | 24/7 chat + phone |
Kalau Anda cuma punya 1 site dengan traffic stabil di bawah 25K, Kinsta worth it untuk ketenangan pikiran. Tapi kalau Anda manage multiple sites atau traffic fluktuatif, WPX jauh lebih hemat dan fleksibel.
Support: Teknis vs Ramah
Kedua punya support 24/7, tapi vibe-nya beda.
Kinsta support adalah WordPress expert. Mereka akan bantu debug plugin conflict, analisis slow query, sampai kasih rekomendasi kode. Tapi respons bisa 5-10 menit di chat. Nggak ada phone support.
WPX support lebih cepat respon (rata-rata 30 detik). Mereka kasih phone support juga. Tapi level teknisnya sedikit di bawah Kinsta. Untuk issue complex, kadang harus escalate ke senior engineer.
Dari pengalaman, kalau site Anda complex dan butuh deep debugging, Kinsta lebih handal. Kalau Anda butuh quick fix dan respons cepat, WPX juaranya.
Real-World Scenarios: Kapan Pilih Mana?
Mari kita kasih scenario konkret biar Anda nggak bingung.
Pilih Kinsta Kalau:
- Anda punya single high-traffic site (50K+ visits/bulan) dengan revenue tinggi.
- Butuh isolasi database maksimal dan global CDN premium.
- Tim Anda nggak punya sysadmin, butuh support yang bisa jadi “outsourced DevOps”.
- Budget nggak jadi masalah utama.
Pilih WPX Kalau:
- Anda manage multiple sites (agency, freelancer, atau portfolio bisnis).
- Traffic fluktuatif—kadang 10K, kadang 100K visits.
- Butuh kecepatan di region Asia atau Australia (WPX punya data center Sydney).
- Mau hemat tapi nggak mau kompromi terlalu banyak.
Kesimpulan: Mana yang Lebih Cepat?
Jawaban jujur: Kinsta lebih cepat di TTFB dan global reach, berkat Google Cloud C2 dan Cloudflare Enterprise. Tapi WPX lebih cepat di real-world load time untuk site dynamic berkat LiteSpeed Cache yang lebih pintar.
Untuk website bisnis yang pure content (blog, landing page), Kinsta mungkin lebih unggul. Tapi untuk e-commerce atau membership site dengan banyak user logged-in, WPX sering terasa lebih “nyaman” karena caching-nya lebih fleksibel.
Bottom line: Pilih Kinsta kalau Anda butuh infrastructure kelas dunia dan nggak mau mikir teknis. Pilih WPX kalau Anda butuh value, fleksibilitas, dan performa solid tanpa harus jual ginjal.
Saya sendiri pakai Kinsta untuk site premium saya dengan traffic global. Tapi untuk client portfolio di Asia, WPX adalah default choice. Keduanya bagus, tapi untuk konteks yang berbeda.
Sebelum pindah, test site Anda di kedua platform pakai trial 30 hari mereka. Data Anda sendiri adalah benchmark terbaik.




