Shared hosting sudah ngos-ngosan pas traffic rame. Website lambat, error 503, calon customer kabur ke kompetitor. Sebagai engineer yang ngurus puluhan website klien UMKM, saya ngerti betul frustasinya. Cloudways datang sebagai jembatan: power cloud infrastructure tanpa harus jadi sysadmin.

Cloudways Review

Cloudways Itu Bukan Hosting Biasa

Cloudways bukan perusahaan cloud seperti DigitalOcean atau AWS. Mereka adalah managed cloud hosting platform. Artinya, mereka nyewain server dari provider top (DigitalOcean, AWS, Google Cloud), lalu dikemas jadi paket yang gampang dipakai.

Kita nggak perlu pusing install Linux, configure Nginx, atau atur SSL manual. Semua sudah di-automate. Tapi tetap, kita punya kontrol penuh lewat dashboard mereka. Ini beda jauh dari shared hosting yang sumber dayanya dipaksa berbagi dengan ratusan website lain.

Kelebihan yang Langsung Terasa di UMKM

1. Performa Brutal untuk Website E-commerce

Website klien saya yang jualan online pindah ke Cloudways, load time turun dari 4 detik jadi 1.2 detik. Kenapa? Mereka pakai PHP-FPM, Redis Pro, dan Varnish cache yang sudah pre-configured. Nggak perlu install plugin cache ribet-ribet lagi.

Plus, mereka punya Cloudflare Enterprise CDN built-in. Ini bukan CDN gratisan. Fitur smart routing dan WAF-nya beneran ngefek, apalagi buat website yang target marketnya global.

2. Scaling Vertikal Super Cepat

UMKM sering kaget pas ada promo tiba-tiba traffic 10x lipat. Di shared hosting, itu artinya suspended. Di Cloudways, kita tinggal slide slider di dashboard: naikin RAM dari 2GB ke 8GB, done. Scaling dalam hitungan menit, tanpa migrate-migrate.

Baca:  Vultr Vs Linode: Mana Vps Yang Lebih Kencang Untuk Developer Indonesia?

Dan kita hanya bayar per jam servernya. Pas sepi, kita turunkan lagi speknya. Fleksibel banget buat business yang musiman.

3. Security yang Nggak Nanggung

Setiap server dapat:

  • Bot Protection gratis (bikin Akismet jadi kalah)
  • Free SSL dari Let’s Encrypt yang auto-renew
  • Dedicated Firewall managed
  • Automated backup harian ke offsite storage, retensi 1-4 minggu

Bayangkan kalau di shared hosting, SSL kadang bayar, backup cuma weekly, dan firewallnya… ya bawaan cPanel doang.

4. Developer-Friendly (Tapi Pemula Bisa)

Fitur staging one-click, Git deployment, dan SSH/SFTP access full. Buat yang punya tim developer, ini bikin workflow jauh lebih cepat. Tapi buat pemula, dashboard UI/UX-nya cukup intuitive. Ada video tutorial dan knowledge base yang lengkap.

Kekurangan Nyata yang Harus Diperhitungkan

1. Harga Nggak Bisa Dibilang Murah

Plan termurah (DigitalOcean 1GB RAM) $14/bulan. Kalau naik ke DO Premium 4GB, jadi $50/bulan. Ini lebih mahal 3-5x lipat dari shared hosting Niagahoster atau Hostinger.

Tapi ingat: kita bayar dedicated resources. Nggak ada lagi “unlimited” tapi ternyata dibatasi CPU usage di Terms of Service.

2. Learning Curve Masih Ada

Meski managed, kita tetap harus paham konsep dasar: server, aplikasi, domain pointing, SSL, dan cron job. Support mereka kadang asumsi kita tahu basic. Kalau sampeyan masih level “WordPress install lewat Softaculous doang”, butuh waktu adaptasi sekitar 1-2 minggu.

3. Email Hosting Terpisah

Cloudways tidak menyediakan email hosting. Kita harus beli Rackspace Email ($1/email/bulan) atau pakai Google Workspace/Zoho. Ini tambahan biaya dan setup. Beda dengan shared hosting yang biasanya sudah include unlimited email.

4. Support Cepat Tapi Nggak Selalu Mendalam

Live chat responsenya cepat (5-10 menit). Tapi untuk issue kompleks, mereka suka create ticket dan forward ke tier berikutnya. Kadang butuh 24 jam buat masalah edge case. Nggak se-instant support shared hosting lokal yang bisa telpon.

Cloudways itu kayak naik motor matic premium. Nggak perlu ganti oli sendiri, tapi tetap harus tahu cara pakai rem dan gas. Kalau mau naik ojek online, ya tetep bisa, tapi nggak fleksibel.

Bandingkan: Cloudways vs Alternatif

vs Shared Hosting (Niagahoster, Hostinger)

Shared hosting murah, mulai Rp 20-50ribu/bulan. Tapi performa ya sesuai harga. Kalau website sampeyan cuma landing page statis atau blog pribadi, shared hosting cukup. Tapi kalau sudah jualan online, traffic 5.000-10.000 visitor/bulan, dan uptime kritis, Cloudways jauh lebih worth it.

Baca:  Cloudways Vs Runcloud: Mana Panel Hosting Terbaik Untuk Wordpress?

vs VPS Direct (DigitalOcean, Linode)

Beli VPS langsung lebih murah 30-40%. Droplet 4GB RAM di DO harganya $24/bulan, vs Cloudways $50/bulan. Tapi itu harga server doang. Belum tambah panel (RunCloud $15), backup solution, CDN, security. Totalnya malah lebih mahal dan ribet.

FiturCloudwaysShared HostingVPS Direct
Harga (4GB RAM)$50/bulanRp 100k/bulan$24/bulan
Setup Time5 menitInstant1-2 jam
ScalabilityOne-clickManual migrateManual
SecurityManagedBasicDIY
Support24/7 chat24/7 chat/phoneCommunity only

Kasus Nyata: Kapan Worth It, Kapan Skip

Worth It Banget Kalau:

  • Website WooCommerce/WordPress dengan 50+ produk dan traffic 5k-50k visitor/bulan
  • Perlu scaling cepat untuk event flash sale atau campaign TikTok
  • Tim ada developer yang butuh staging dan Git workflow
  • Uptime 99.9% adalah deal-breaker (kalau down, rugi jutaan)

Lebih Baik Skip Kalau:

  • Website cuma company profile 5 halaman, visitor < 1k/bulan
  • Budget super ketat < Rp 100k/bulan
  • Sama sekali nggak ada tim tech-savvy dan butuh support tangan pertama
  • Butuh banyak email akun (@domain) gratis

Verdict: Worth It untuk UMKM yang Serius

Cloudways itu investasi, bukan sekadar biaya hosting. Kalau website adalah mesin penjualan utama, $50/bulan itu murah dibanding rugi peluang karena website lemot.

Tapi kalau website cuma “bisa dibuka aja cukup”, ya shared hosting masih jadi pilihan rasional. Jangan terjebak hype.

Rekomendasi saya: coba trial 3 hari. Pindahkan website copy, test performa dengan GTMetrix, dan simak support experience. Kalau cocok, baru commit. Kalau nggak, ya tetap di shared hosting sambil belajar manage VPS perlahan.

Pilih hosting yang sesuai fase bisnis. Nggak ada yang salah, yang ada hanya yang belum tepat.

Ada rencana migrasi ke Cloudways tapi bingung step-by-step? Atau mau konsultasi apakah website sampeyan butuh? Drop pertanyaan di bawah, saya bantu analisa gratis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Namecheap Easywp Review: Managed WordPress Paling Murah?

Hosting WordPress managed yang murah tapi nggak murahan itu seperti unicorn: semua…

Liquid Web Vs Nexcess: Mana Managed Hosting Yang Lebih Stabil?

Pertanyaan “mana yang lebih stabil” sebenarnya menyeret kita ke dalam lubang kelinci…

Kelebihan & Kekurangan Kinsta Untuk Website Traffic Tinggi

Traffic tinggi itu dua sisi mata uang. Di satu sisi, Anda berhasil—konten…

Vultr Vs Linode: Mana Vps Yang Lebih Kencang Untuk Developer Indonesia?

Pilihan VPS murah dan kencang buat developer Indonesia sering jadi dilema. Vultr…